bosan.itulah kira-kira perasaan saya saat mendengar musik-musik jalur utama yang sedang melaju di relnya sekarang ini. bagaimana tidak, musik yang bermunculan era ini malah cenderung gimana gitu,,mulai dari band-band kacrut (maaf bg anda yg tersinggung) yang bermunculan di sana sini dengan irama melayu mendayu, hingga satu hal yang pasti mengiringinya, cinta!
yuph, cinta seakan-akan menjadi tema utama dalam perkembangan musik jalur utama saat ini. di mana sih lagu yang ga pake tema cinta? semua nya pake cinta-cintaan,,mulai dari pertemuan pertama, terus putus nyambung, sampai perselingkuhan,, layaknya sup cinta yang diisi berbagai macam sayuran dan bumbunya.
emang sih, secara musik ada “beberapa” yg enak didenger (banyak yg ga enaknya), tapi tema nya itu lho, sampai-sampai saya dapat menebak gimana sih lirik lagunya dari aransemen dan judulnya aja, dan yang pasti dari siapa yang bawain. lagu-lagu yang iramanya melayu-melayu gmn gitu, pasti isinya cinta! Gubrak…!!!
emang sih (yg kedua neh), lagu cinta seperti itu laris manis di pasaran bak kacang goreng (hm?) dan di sisi komersialitas emang sangat menguntungkan, tapi, menurut saya,secara musikalitas turun jauh,bro! bandingin ma anak-anak indie sekarang ini aja deh. dengan modal seadanya, tapi mereka bisa membuat musik yang jauh lebih baik daripada musik jalur utama tersebut dengan eksploritas yang cukup handal. mulai dari aransemen yg cukup nendang dengan piranti dari gitar akustik hingga game boy dan atari 2600, sampai lirik yg ga itu-itu mulu, dari tema fantasi khayal, hingga lagu yang terinspirasi dari kejadian sehari-hari. mereka lebih cerdas dalam bermusik, walaupun kelihatannya mereka tidak begitu memperhatikan ketenaran dan komersialitas.
lihat saja white shoes dan the sigit, dua band yang bisa merambah nagri dgn statusnya sbg band indie (diundang ke festival apa gt di amrik), meskipun (sayang sekali) the sigit tdk jadi berangkat. dengan musik yang lebih variatif, retro dan rock n roll gmn gt, mereka dapat dkenal hingga keluar.
bgmn dgn musik jalur utama kita? masih berkutat di dalam negeri kah? yuph, karena mereka tetap mempertahankan musik musik seperti mendayu cinta itu, yg mentoknya sampai jiran dan membuat saya (mungkin anda juga) merasa bosan.
ya itu memang subyektivitas saya sbg pecinta musik, tapi ga nutup kemungkinan jg banyak diantara kita yang merasa seperti saya. semoga saja musik indonesia lebih baik dari yang sudah-sudah dan bisa merambah internasional.
lagu cinta melulu
apa memang karena kuping melayu?
suka mendayu-dayu
(efek rumah kaca – cinta melulu)
*cheers
fanderlart berkata,
April 26, 2008 @ 7:30 am
sebelumnya, apa definisi indie?